Blog Entrythe seed of spiritual consciousnessMay 20, '07 11:13 AM
for everyone

Kebahagiaan dan Kerja

 

Kerja ya cari duit. Dan itu biasa tak jauh-jauh dari keringat, deadline, pontang-panting, heboh. Kebahagiaan yang cerita lain, yang biasanya tidak usah dihubung-hubungkan dengan kerja. Ekstremnya, kebahagiaan ya yang di luar kerja: masa libur ketika kita bisa melakukan apa saja, di tempat yang kita sukai, dengan orang yang kita cintai, pada waktu yang kita pilih sendiri. Itulah gambaran umum tentang kerja. Tentu ada perkecualian. Dan ya, saya tahu, saya harus buru-buru mengatakan bahwa kita bekerja dengan apa yang kita senangi; atau kita bisa menyenangi apa yang kita kerjakan. Sayangnya, gambaran populer ini, menurut saya, lebih banyak benarnya ketimbang salahnya. Dengan ini, kita lalu menghibur diri dengan…mau apa lagi, toh memang sudah kewajiban. Atau, ya ini demi anak-istri yang harus dinafkahi; demi sekolah anak; demi periuk keluarga. Alasan-alasan mulia ini sepenuhnya sah dan bisa dipahami. Cuma, kalau saya boleh menelisik lebih dalam, sering kali ini lebih soal norma. Artinya, sesuatu yang kita yakin memang itulah yang harus dijalani, tetapi kita tidak menjalani dengan sepenuh kesadaran. Kita menjalaninya sebagai paksaan. Tanpa intensitas—atau, lebih adilnya, dengan intensitas yang rendah. Saya sebetulnya, ringkasnya, ingin bicara soal betapa jauhnya kita dari spiritual wisdom dalam soal kerja.

 

Saya terus penasaran, apakah lalu kita memang harus retreat sebentar dari ingar bingar kerja sehari-hari. Mengambil jeda dari yang rutin dan berulang-ulang. Barangkali tidak perlu sampai harus ke Gua Hira atau yang semacamnya, dalam arti fisik. Secara metaforis, memang kita butuh Gua Hira itu dalam rentang kehidupan kita ini. Hanya dengan keheningan dan kejernihan itu, kita bisa melihat kenyataan secara lebih transparan, lebih telanjang. Sebab, kita melihat kenyataan sebagaimana adanya, tanpa melihat kepentingan. Kita ingin menjadi anak-anak kembali, dalam arti semangat kefitrahanannya. Back to the origin, yang kita percayai sebagai fitrah, suci, bening, transparan.

 

Dunia kita memang lebih dipenuhi spedometer ketimbang kompas. Kita bergerak dengan modus kecepatan, bukan dengan modus arah. Lalu, sampai di tempat yang kita anggap sebagai tujuan itu, kita terhenyak: fatamorgana. Kita lalu berdalih, ini hanyalah episode yang harus kita hadapi. Pada kenyataan, kita takut mengakui bahwa kita kehilangan kompas itu. Kita khawatir dianggap tidak progresif karena mempertanyakan arah—sesuatu yang oleh kebanyakan orang sudah dianggap terlalu jelas—sudah taken for granted saja. Itulah paradoks era kecepatan. kita merasa terburu-buru terus-menerus, entah di dalam agenda apa, menuju ke mana.  Kita merasa tertinggal,entah dalam hal apa, atau oleh siapa. Kita seperti di tengah lalu lintas—selalu merasa tertinggal oleh kendaraan lain di depan kita (kita tak mau tahu lebih jauh, mereka mau ke mana, kita mau ke mana). Kita telah menjadi massa: satu partikel di antara lautan benda-benda. Hampir-hampir bergerak tanpa berpikir. Atau berpikir tapi dengan mindset yang terkondisikan untuk ingin seragam dengan yang-lain (the others).

 

Barangkali Anda merasa, saya mengada-ada. Saya pun kadang-kadang curiga, jangan-jangan saya mencari-cari persoalan yang tidak perlu. Tapi, setelah saya pikir-pikir, inilah barangkali kecemasan eksistensial itu. Yaitu, kemasan yang dirasakan ketika kita menyadari kita kita as a human being; ketika kita mempertanyakan sangkan paraning dumadi alias asal-usul segala sesuatu; ketika kita dihadapkan pada pertanyaan purba: dari mana kita berasal, ke mana kita akan pergi. Dan kalau pertanyaan ini begitu intensif mendera Anda, saya yakin, Anda akan berbagi kecemasan dengan saya. Believe me, this is a necessary Angst. Supaya kita bangkit dari kesadaran seharihari dan berpikir serta merasa takjub dengan semua ini…and that’s the beginning of spiritual consciousness


vayenukman wrote on Apr 21, '08
Interessant, mein Freund...!
Add a Comment